Tanaman mahkota dewa (Phaleria macrocarpa L.) merupakan tanaman obat asli Indonesia yang berasal dari Papua dan termasuk dalam tanaman jenis perdu yang dapat tumbuh subur di daerah tropis (Dyah dan Firman, 2008). Tanaman ini berkhasiat sebagai obat, karena mengandung senyawa bioaktif jenis Alkaloid, Saponin, Flavanoid dan Polifenol. Senyawa-senyawa aktif tersebut dapat berkhasiat sebagai penawar racun dalam tubuh karena mengandung alkaloid, anti bakteri dan anti virus karena mengandung saponin, melancarkan peredaran darah dalam tubuh karena mengandung senyawa flavonoid dan sebagai anti alergi karena mengandung senyawa polifenol. Menurut Rohyami (2008), didapatkan senyawa flavonoid terbanyak pada daging buah mahkota dewa, dan semakin tinggi flavonoid semakin tinggi kadar antioksidannya. Flavonoid adalah suatu antioksidan alam dan mempunyai aktifitas biologis antara lain sebagai antioksidan yang dapat menghambat berbagai reaksi oksidasi serta mampu bertindak sebagai pereduksi radikal hidroxil, superoksida, dan radikal peroxil. Beberapa keunggulan dan khasiat mahkota dewa menjadikan tanaman ini untuk perlu dikembangkan. Saat ini ada beberapa negara yang sudah mengembangkan tanaman mahkota dewa sebagai obat untuk penyembuhan beberapa penyakit, diantaranya Belanda, Taiwan, Singapura dan Malaysia (Winarto, 2007). Pentingnya khasiat dari buat mahkota dewa ini mendorong upaya budidaya tanaman secara intensif melalui perbaikan teknik budidaya untuk mencapai produksi buah yang tinggi. Meningkatnya produksi buah akan meningkatkan sediaan herbal (simplisia) sebagai bahan baku obat yang bersumber dari bahan kimia alam. Perbaikan teknik budidaya tanaman dimulai dari proses penyediaan bahan tanam yang berkualitas baik dengan kemampuan pertumbuhan yang tinggi setelah dipindahkan ke lapang. Tanah adalah lapisan permukaan bumi yang secara fisik berfungsi sebagai tempat tumbuh dan berkembangnya perakaran
penopang tegak tumbuhnya tanaman dan menyuplai kebutuhan air dan udara, secara kimiawi berfungsi sebagai gudang dan penyuplai unsur hara atau nutrisi (senyawa organik dan anorganik sederhana dan unsurunsur esensial seperti : N, P, K, Ca, Mg, S, Cu, Zn, Fe, Mn, B, CI); dan secara biologi berfungsi sebagai habitat biota (organisme) yang berpartisipasi aktif dalam penyediaan hara tersebut dan zat-zat adiptif (pemacu tumbuh, proteksi) bagi tanaman, yang ketiganya secara integral mampu menunjang produktivitas tanah untuk menghasilkan biomas dan produksi baik tanaman pangan, tanaman obat-obatan, industri perkebunan, maupun kehutanan (Hadid, 2007). Pasir sering digunakan sebagai media tanam alternatif untuk menggantikan fungsi tanah. Sejauh ini, pasir dianggap Memadai dan sesuai jika digunakan sebagai media penyemaian benih, pertumbuhan bibit tanaman, dan perakaran setek batang tanaman. Sifatnya yang cepat kering akan memudahkan proses pengangkatan bibit tanaman yang dianggap sudah cukup umur untuk dipindahkan ke media lain. Penggunaan pasir sebagai media tanam sering dikombinasikan dengan campuran bahan anorganik lain seperti kerikil, batubatuan, atau bahan organik yang disesuaikan dengan jenis tanaman. Kemampuan pertumbuhan bibit setelah dipindahkan ke lapang, akan terpenuhi jika pada proses pertumbuhan bibit dipembibitan mengalami proses pemeliharaan yang baik. Salah satu faktor penting pada pemeliharaan bibit adalah pemberian nutrisi melalui pemupukan. Pemupukan pada pembibitan tanaman obat diupayakan melalui sistem organik dan salah satu cara pada sistem organik tersebut adalah penggunaan bahan organik pupuk kandang sebagai sumber pupuk. Kualitas pupuk kandang sangat tergantung pada jenis ternak dan kualitas pakan (Hadid dan Laude, 2007). Menurut hasil penelitian Simatupang (2005) bahwa pemberian pupuk kandang ayam dengan nyata menurunkan besarnya aliran permukaan tanah
karena pupuk kandang memperbaiki sifat fisik tanah terutama struktur sehingga permeabilitas meningkat. Beberapa hasil penelitian aplikasi pupuk kandang ayam selalu memberikan respon tanaman yang terbaik pada musim pertama. Hal ini terjadi karena pupuk kandang ayam relatif lebih cepat terdekomposisi serta mempunyai kadar hara yang cukup jika dibandingkan dengan jumlah unit yang sama dengan pupuk kandang lainnya (Widowati et al., 2005). Hasil penelitian yang dilakukan oleh Neni Marlina (2010), yang meneliti tentang pemanfaatan jenis pupuk kandang pada tanaman cabai merah mendapatkan hasil bahwa pemanfaatan jenis pupuk kandang berpengaruh terhadap produksi tanaman cabai merah. Perlakuan pupuk kandang ayam memberikan hasil yang lebih baik terhadap produksi tanaman cabai merah dibandingkan jenis pupuk kandang kotoran kambing dan sapi. Berdasarkan hasil penelitian Nirwan (2007). Pemupukan meningkatkan kandungan total flavonoid per gram bahan kering pada daun dewa menggunakan pupuk kandang ayam. Pemberian pupuk kandang yang menghasilkan total flavonoid tertinggi adalah pemberian pupuk kandang ayam 100 g/tanaman. Berdasarkan hasil penelitian tersebut penggunaan pupuk kandang ayam menjadi pertimbangan sebagai sumber pupuk untuk meningkatkan pertumbuhan bibit dan senyawa protein dalam sel. Untuk meningkatkan serapan hara dan memperbaiki pertumbuhan akar bibit, maka sumber pupuk dan komposisi media tanam menjadi topik utama pada penelitian ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan awal bibit tanaman mahkota dewa (Phaleria macrocarpa L) pada berbagai komposisi media tanam di polibag.
dilaksanakan didalam paranet naungan 55% di Kebun Akademik Fakultas Pertanian Universitas Tadulako di Kelurahan Tondo. Peralatan yang digunakan terdiri dari ayakan 2 mm 10 mess, ember ukuran 5 liter, pisau, timbangan analitik merk Adam, garpu, gembor, gelas aqua ukuran 200 ml, spidol warna hitam, mistar ukur 30 cm, jangka sorong Nolitan, oven Memmert suhu 800 C, alat tulis menulis dan kamera. Bahan yang digunakan terdiri dari buah mahkota dewa yang sudah masak fisiologis diambil dari cabang-cabang primer tempat melekatnya buah. Buah tanaman mahkota dewa 100 biji klon Desa Tolai, paranet naungan 55%, tanah, pasir, pupuk kandang ayam, wadah penyemaian ukuran 50x50 cm, polibag warna hitam ukuran 15x20 cm, dan air untuk penyiraman. Metode Percobaan. Penelitian ini merupakan percobaan pot menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan perlakuan komposisi media tanam. Perlakuan yang dicobakan terdiri dari M0 (media tanah), M1 komposisi (tanah, pasir, pupuk kandang ayam) (1:1:1), M2 (1:1:2), M3 (1:2:1), M4 (2:1:1), M5 (2:1:2). Perlakuan tersebut diulang sebanyak 4 kali sehingga diperoleh 24 unit percobaan dan setiap unit percobaan terdapat 2 tanaman sebagai unit sampel sehingga terdapat 48 sampel percobaan. Persiapan Bahan Tanam. Sumber benih mahkota dewa berasal dari pertanaman petani Desa Tolai Kabupaten Parigi Moutong, bersumber dari pohon yang produktif (buahnya banyak). Buahnya diambil cabang primer yang buahnya besar sehingga baik untuk proses perkecambahan karena cadangan makanannya lebih banyak. Buah mahkota dewa yang diambil sebagai sumber benih sudah masak fisiologis, buahnya berwarna merah, serta ukurannya maksimal. Persiapan Pembibitan. Buah mahkota dewa dibelah dan diambil biji didalamnya sebagai bahan tanam untuk disemai. Media persemaian menggunakan 3 buah bak
persemaian ukuran 50x50 cm yang telah berisi media pasir. Selanjutnya dibuatkan lubang untuk penyemaian dengan kedalaman 1 cm dengan jarak tanam 1x1 cm. Kelembaban medianya dijaga melalui penyiraman setiap hari, pagi dan sore hari. Persiapan Media Tanam. Media tanam menggunakan polibag berwarna hitam ukuran 15x20 cm yang berisi tanah, pasir dan pupuk kandang ayam. Semua komponen media tanam diayak lalu dikompositkan sesuai perlakuan masing-masing. Pembuatan komposisi media tanam menggunakan takaran ember ukuran 5 liter, kemudian diaduk hingga homogen lalu dimasukkan kedalam polibag. Setiap polibag diberi label sesuai dengan komposisi media tanam. Persiapan Lahan. Penelitian dilakukan didalam paranet naungan 55% di Kebun Akademik Fakultas Pertanian Universitas Tadulako. Tahap awal lahan dibersihkan agar hama dan penyakit tidak menganggu tanaman selama penelitian. Penanaman. Benih yang sudah berkecambah dipindahkan dari wadah persemaian ke media tanam (polibag) yang telah berisi komposisi media tanam (tanah, pasir dan pupuk kandang ayam). Selanjutnya tanaman yang sudah berkecambah sebelum ditanam di polibag, dikelompokkan berdasarkan tinggi tanaman untuk masing-masing kelompok sebagai ulangan. Penyiraman. Penyiraman dilakukan setiap hari yaitu pagi pukul 07.00 WITA dan sore hari pukul 17.00 WITA kecuali hari hujan, dan penyiraman dilakukan secara seragam menggunakan gelas ukuran 200 ml pada kondisi kapasitas lapang sesuai pengujian pada penelitian yang dilakukan di lapangan. Penyiangan. Penyiangan dilakukan dengan membersihkan gulma yang tumbuh di areal pertanaman dan gulma yang tumbuh dalam polibag dengan cara mencabut gulma. Setiap minggu dilakukan penggemburan media tanam dengan tujuan memperlancar sirkulasi udara dalam media tanam. Pengendalian Hama Penyakit. Hama dan penyakit yang menyerang tanaman mahkota
dewa yaitu jamur, kutu putih, dan ulat daun. Pengendalian dilakukan secara alami melalui pengendalian hayati dan manual. Pengendalian secara hayati menggunakan musuh alami dengan bantuan laba-laba yang sudah berada dipertanaman, sedangkan pengendalian secara manual dengan cara mencabut jamur, ulat daun dan kutu putih. Panen. Panen dilakukan setelah tanaman mahkota dewa berumur 9 MST. Panen dilakukan dengan cara membongkar polibag. Tanaman yang telah dipanen dicuci bersih dengan air lalu tajuk dan akar tanaman dipisah dengan cara memotong tanaman dipangkal batang. Pengamatan Komponen Tumbuh. 1. Tinggi tanaman (cm) diukur dari pangkal batang sampai pucuk tanaman pada umur 1-9 MST menggunakan mistar ukur. Pengamatan dilakukan setiap minggu. 2. Jumlah daun (helai) dihitung jumlah daun yang telah terbuka sempurna pada umur 1-9 MST, pengamatan dilakukan setiap minggu. 3 Diameter batang (cm) pengukuran diameter dilakukan pada ketinggian 1 cm dari permukaan tanah lalu dilingkari dengan menggunakan spidol berwarna hitam. Pengamatan dilakukan pada umur 1-9 MST, diamati setiap minggu menggunakan alat jangka sorong. Komponen Hasil. 1. Bobot basah dan kering tajuk (g) yang meliputi daun dan batang ditimbang dengan menggunakan timbangan analitik setelah panen yaitu umur 9 MST. 2. Bobot basah dan kering akar (g) ditimbang dengan menggunakan timbangan analitik setelah panen yaitu umur 9 MST. 3. Rasio bobot tajuk dan akar dihitung berdasarkan bobot kering oven dengan suhu 800 C. Analisis Data. Data hasil pengamatan dianalisis menggunakan analisis sidik ragam (Uji F 5%) dan jika terdapat pengaruh yang nyata dilanjutkan dengan uji beda nyata jujur (BNJ) 5%
Sumber : media.neliti.com

Posting Komentar